Sabtu, 11 Januari 2014

Paradigma Tongkrongan Remaja


Gaya Hidup - Perubahan trend, pola pikir, serta gaya bahasa menjadi keniscayaan sekaligus tantangan di zaman yang serba modern ini. Tidak menjadi sebuah masalah jika perubahan tersebut ke arah yang positif. Globalisasi tidak hanya menyangkut masalah ekonomi dan teritorial, melainkan juga mental dan psikologis. Dan inilah yang menjadi tantangan di negeri ini, dan diharapkan generasi mudalah yang mampu memberi solusi kreatif. Akan tetapi mental malas kini menghinggapi sebagian besar pemuda. Baik itu malas berpikir ataupun malas bekerja. Salah satu indikasinya adalah kebiasaan nongkrong oleh para remaja, khususnya mahasiswa. Meski nongkrong jug bernilai positif.
Selama ini di kampus sering menjumpai orang nongkrong. Dalam konteks kampus menurut Farida, faktor yang menjadikan kebiasaan menongkrong itu kemungkinan ada tiga. Pertama, itu karena tidak punya kesibukan. Entah itu karena jam kosong ataupun karena tidak mengikuti UKM sehingga tidak adanya kegiatan. Kedua, karena memang menjadi kebutuhan. Seperti untuk melepas lelah ataupun share santai dengan teman-teman tongkrongan. Dan ketiga, nongkrong itu menjadi gaya hidup tersendiri bagi anak-anak remaja. Biasanya anak muda pada berkomentar “ remaja yang tidak nongkrong itu tidak gaul.
Sebenarnya, nongkrong itu bisa dilihat dari segi sisi positif dan sisi negatifnya. Jika dilihat dari segi positif, nongkrong menjadikan pola komunikasi dan proses interaksi sosial lebih akrab, sebab suasana dalam tongkrongan cenderung relaks, tidak ada pembatasan waktu, tidak ada penentuan tema seperti halnya diskusi, tempat untuk ngobrol bebas (ekspresi ngomong bebas), pemakain bahasa juga bebas. Namun jika dilihat dari segi negatifnya, nongkrong itu bisa menjadikan kecanduan, bisa menghilangkan atau mengalahkan aktifitas utama. “para remaja yang nongkrong hanya berniat untuk senang-senang. Tidak mengenal waktu, karena sudah terhipnotis dalam pembahasan dalam tongkrongan tersebut,” Jelas Farida.
Topik Pembahasan
Dalam tongkrongan juga tercipta topik-topik pembahasan yang hanya dimengerti dan dipahami oleh mereka sendiri yang nongkrong. Topik yang dibahas dalam tongkrongan tersebut beraneka ragam. Ada yang membahas sesuatu hal yang tidak penting dan ada juga yang membahas sesuatu yang bermanfaat. Misalnya membahas mengenai ke-Islaman, tema kuliah yang tidak dimengerti.
Dari penjelasan beberapa mahasiswa alasan kenapa mereka nongkrong itu karena nongkrong bisa mengisi waktu yang luang dan bisa menghilangkan stress di saat banyaknya aktivitas dan tumpukan tugas kuliah yang menggunung. Mereka juga menyadari bahwa terkadang nongkrong itu ada manfaatnya terkadang juga tidak ada manfaatnya sama sekali. Menurut mereka jika nongkrong membahas sesuatu yang membawa pengaruh baik itu tidak  menjadi masalah, misalnya membahas tentang berita terbaru atau membahas tugas-tugas kuliah.
Namun beberapa mahasiswa lain menyatakan bahwa tapi tidak sedikit pula, nongkrong hanya membahas gossip yang tidak jelas kebenarannya hingga menimbulkan fitnah. Dan tidak sedikit pula mahasiswa yang nongkrong menggoda mahasiswa lain yang lagi melintas di depannya. Nongkrong semacam itu yang harus dihindari. Mereka menambahkan bahwa biasanya mereka nongkrong karena malas masuk kuliah, atau malas mengerjakan tugas digunakan untuk nongkrong dengan teman yang juga suka nongkrong.
Tempat Tongkrongan
Di STAIN Kudus secara khusus tidak ada tempat untuk nongkrong. Tapi tempat favorit  mahasiwa nongkrong biasanya di kantin baru yang terletak di kampus barat. Sedangkan di kampus timur, tempat tongkrongan itu biasanya di belakang rektorat, tepatnya di bawah pohon-pohon.
Tapi mengherankan adalah seringkali perpustakaan juga dijadikan tempat nongkrong oleh mahasiswa. Hal ini terlihat dari adanya beberapa mahasiswa yang duduk bergerombol (mirip diskusi) namun membahas hal-hal di luar mata kuliah. Kerap terdengar suara yang keras, sehingga mengakibatkan ketidaknyamanan mahasiswa lain yang mau meminjam buku ataupun yang sedang membaca di tempat tersebut. “namun biasanya tempat untuk dijadikan lokasi tongkrongan itu tempat yang ramai,” jelas Farida, dosen Psikologi STAIN Kudus.
Nongkrong telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Setiap hari, selalu terlihat orang yang kerjaannya nongkrong.
Menyikapi masalah nongkrong, kebanyakan mengartikan kedalam hal yang negatif. Meskipun kenyataannya banyak juga hal yang positif. Nongkrong jika dilihat dari segi psikologi itu bisa saja untuk sejenak melepaskan penat ataupun beberapa kegundahan hati yang dirasakan. Terkadang juga menimbulkan rasa yang begitu menyenangkan dan lebih tenang.
“Tidak ada salahnya nongkrong, mengingat ada dampak posotfinya juga. Namun akan lebih bermanfaat jika menghabiskan waktu di tempat-tempat yang lebih bermanfaat,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kalian inovasi bagi saya